KPI : 6 Program Televisi Paling Enggak Mutu

Standard

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagian besar keluarga di Indonesia memiliki televisi. Akan tetapi, mereka tidak tahu mana program televisi yang baik untuk ditonton dan mana yang buruk untuk tidak ditonton karena bisa merusak perkembangan psikologis anak-anak dan remaja. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat pekan lalu telah mengumumkan enam sinetron bermasalah.

Kamis (2/4) siang di Jakarta, Yayasan SET bekerja sama dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Yayasan Tifa, dan Jaringan Masyarakat Pemerhati Televisi di 11 kota besar Indonesia menggelar seminar yang memaparkan hasil penelitiannya bertajuk “Rating Publik III: Menuju Televisi Ramah Keluarga". "Penelitian untuk memberikan alternatif penilaian terhadap program-program televisi berbasis pada aspek-aspek kualitas," kata Agus Sudibyo, Koordinator Riset dari Yayasan SET.

Dijelaskan, berbasis pada metode peer review assessment, riset yang dilakukan menjaring penilaian 220 orang kalangan terpelajar terjadap kualitas program-program televisi secara umum dan kualitas program-program televise berating tinggi secara khusus.

Salah satu hasil risetnya adalah program televisi paling tidak berkualitas dan pengiklannya. Berikut program televisi terburuk tersebut: "Muslimah" (Indosiar), "Suami-suami Takut Istri" (Trans TV), "FTV Drama" (Indosiar), "Bukan 4 Mata" (Trans 7), "Dangdut Mania Dadakan 4" (TPI), dan "Cinta Fitri 3" (SCTV).

Yayasan SET juga mengumumkan siapa pengiklan di program terburuk tersebut. Di "Muslimah", yang beriklan adalah 3 (Three)-GSM, Excelcomindo XI-GSM Card, dan Oreo. Di "Suami-suami Takut Istri", Partai Golkar turut beriklan, selain itu Esia dan Autan. Sementara itu, di "FTV Drama" yang beriklan Mie Sedap Instant, Zinc Anti-Ketombe, dan Ale-Ale Fruit Drink. Di "Bukan 4 Mata" yang diasuh Tukul Arwana, pengiklannya Starmild, Gudang Garam Merah, dan Sampoerna A Volution.

Pada program terburuk "Dangdut Mania Dadakan 4" yang beriklan adalah Antalinu, Neo Entrostop, dan Molto Ultra. Sementara pada "Cinta Fitri 3" yang beriklan adalah 3 (Three)-GSM, AXIS, dan Ale-Ale.

Imam Wahyudi dari IJTI mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan moral, menuntut industri televisi menampilkan program-program terbaik, yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Perlu disadari, frekuensi yang digunakan stasiun-stasiun televisi merupakan ranah publik. Artinya, industri pertelevisian harus punya tanggung jawab sosial dan moral terhadap masyarakat. Karena itu, acara yang disuguhkan mestinya yang bermanfaat dan dibutuhkan publik, tandasnya.

Abdullah Alamudi dari Dewan Pers mendukung gerakan moral tersebut. Mari kita sebagai warga negara gunakan komunikasi politik yang merupakan hak warga negara untuk membanjiri surat pembaca di media cetak. Komunikasi politik dan kebebasan pers dijamin di negara demokrasi. Sudah waktunya kita untuk memprotes, jangan hanya nrimo, tandasnya.

Kamis, 2 April 2009 | 15:34 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s