MetroMini Bocor

Standard

Sudah hampir setahun berlalu aku menikmati kota Jakarta ini, tak banyak berubah semua masih terasa ramai. Sehari-hari, tiap pagi, ibarat rentetan yang panjang antrian ribuan manusia menembus jalanan Jakarta, ibarat magnet yang selalu menarik untuk disinggahi, para manusia yang mencari penghidupan.

Sebagai kota terbesar di negeri ini, sebagai pusat pemerintahan dan bisnis, transportasi harusnya menjadi alat yang wajib diperhatikan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Cepat, bersih dan nyaman. Mulai dari terminal, alat transportasi tersebut, dan juga media yang dilewatinya. Hal ini yang selayaknya dipikirkan oleh para pemuka kota ini, jajaran pemerintah dan para wakil rakyat serta masyarakat itu sendiri.

Salah satu dari transportasi yang menarik di Jakarta ~ Metromini. Dari namanya, serasa hanya kota ini yang punya. Sebuah angkutan di kota metropolitan. Mungkin bagi orang daerah yang baru mendengar nama ini agak penasaran, dengan kata metro didepannya, seolah-olah menggambarkan transportasi metropolitan yang benar-benar layak untuk dinaiki.

Berbeda dengan istilah MetroTV, Metroseksual, Metro Dept. Store, yang dimata kita mereka mempunyai nilai kompetitive, baik secara selera dan pangsa pasar. MetroMini dengan sedikit sombongnya melenggang di jalanan ibukota, tanpa sedikit rasa malu bersikap ugal-ugalan, sesekali mereka harus konflik dengan pengguna jalan lain atas perbuatan mereka sendiri. Dengan asap hitam mengepul serasa tidak bisa dibandingkan dengan polusi yang dikeluarkan asap rokok kita, pemerintah pun tetap saja memperbolehkan mereka jalan.

Mungkin susah menyuruh MetroMini ini bersikap tertib, selama penggajian sopir dan kernet nya berdasarkan setoran harian, mereka berlomba-lomba mencari penumpang tanpa memperhatikan nasib penumpangnya, banyak dari mereka yang suka berlama-lama menunggu penumpang di tempat-tempat tertentu, sampai akhirnya MetroMini yang sejalur dengan dia terlihat di belakangnya. Karuan saja si MetroMini itu langsung tunggang langgang, cepat-cepat agar tidak didahului temannya. Selain itu banyak kasus MetroMini tidak mau memperhatikan penumpang yang mau turun, beberapa orang kadang sempat jatuh ketika mau turun karena belum selesai kaki penumpang menginjakkan jalan, MetroMini itu sudah tancap gas.

Lain cerita, di dalam MetroMini sendiri kebanyakan kondisinya sudah “apa adanya yang penting bisa jalan”. Dengan kaca, dinding, bangku yang sudah usang. Bangku sisi kanan (belakang sopir) dibuat merapat sehingga memberikan banyak ruang untuk berdiri di sisi belakang, sedangkan di sisi kiri dekat pintu, yang tadinya antara pintu depan dengan pintu belakang memuat 3 baris kursi sekarang dibuat 4 baris, kebiasaan bagi orang dewasa dan berpostur lebih besar akan merasakan susahnya duduk di bangku MetroMini tersebut.

Selain itu, kadang kita temui para kernetnya masih tergolong usia sekolah dasar, bukankah seharusnya mereka sekolah? Secara disiplin, para sopir dan kernet ini ketika tetap saja menyalakan mesin ketika mengisi BBM, apakah ini tidak berbahaya? Belum lagi, ketika beberapa hari yang lalu aku pulang kerja dengan naik MetroMini ini, karena diluar baru hujan lebat tak disangka, ternyata MetroMininya bocor, waduh..

2 thoughts on “MetroMini Bocor

  1. Waktu pertama kali Metromini ‘dilaunching’ sekitar tahun 60/70-an .. sempat menjadi andalan transportasi ibukota menggantikan tream yang dihapus sejak 1962. Mungkin nasib busway nanti bakal kaya’ gitu juga kali ya 30 tahun yang akan datang😦

    // 30 Tahun lagi, bajaj jadi seperti apa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s