Terperangkap dalam Komitmen Perkawinan

Standard

Apabila Anda berada dalam situasi yang tidak lagi menginginkan perkawinan, namun Anda tidak “mampu” untuk meninggalkannya, itu berarti Anda terperangkap dalam hubungan dan komitmen perkawinan Anda. Akhir-akhir ini, penulis banyak menangani kasus mengenai perasaan terperangkap di dalam komitmen perkawinan. Kasusnya berbeda-beda, namun inti permasalahan hampir sama. Pertanyaan mereka, “Apakah saya harus meninggalkan perkawinan saya atau membiarkan diri terperangkap di dalamnya?”

Ita (bukan nama sebenarnya) menikah pada usia 21 tahun, ketika ia masih kuliah. Ia menikah karena orangtuanya harus pindah ke luar kota karena tugas. Karena ia kuliah, ia pun memilih menikah daripada harus tinggal sendiri, atau mengikuti orangtuanya pindah ke luar kota.

Saat itu, pacarnya, Benny, tidak berkeberatan untuk menikah karena ia sudah cukup mapan dalam pekerjaannya. Namun, setelah lima tahun menikah, Ita makin menyadari bahwa ia tidak mencintai Benny. Benny yang 5 tahun lalu dirasanya adalah laki-laki ideal yang dapat menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya, ternyata bukanlah tipe ayah yang sabar menghadapi anak-anaknya.

Ia bukan pula tipe yang senang memanjakan istri seperti yang diinginkan Ita. Ia bukan pula tipe yang memiliki antusias dan ambisi tinggi dalam bekerja seperti yang dibayangkan Ita pada suami yang bertanggung jawab. Ia bahkan senang menghabiskan waktu dengan teman-temannya di kafe sehingga tidak banyak waktu yang dimiliki oleh Ita dan anak-anak. Gairahnya di tempat tidur juga sangat mengecewakan
hati Ita.

Lain kasus Ita, lain pula kasus Dina (nama samaran). Dina mempunyai permasalahan yang mirip dengan Ita, namun bertolak belakang. Seperti Ita, ia pun menikah tidak atas dasar cinta, melainkan karena desakan dan dijodohkan orangtua. Suaminya, Teddy, sangat pencemburu sejak awal. Dalam perjalanan perkawinannya, Dina mengalami kemajuan pesat dalam karier dan pendidikannya hingga ke jenjang S3.

Walaupun ia sudah berusaha untuk meredamnya, ia meninggalkan suaminya yang mentok karier dan jenjang pendidikannya. Dalam hal ini reaksi suami adalah makin cemburu, dan gairah yang berlebihan di tempat tidur. Akibatnya bagi Dina adalah hilangnya privacy dan kewalahan menanggapi suami. Hingga Dina mendapati dirinya mengkhayal bahwa ia berganti pasangan.

Karim (bukan nama asli) sudah berusia 34 tahun dan belum juga beristri. Lingkungannya, termasuk orangtua dan teman-temannya, praktis menekannya melalui berbagai cara. Teman-teman seusianya telah beranak satu atau dua, dan sudah pula memasuki usia sekolah. Dalam acara-acara pertemuan keluarga dan teman, ia selalu menemukan dirinya seolah dipersalahkan atas nasibnya sendiri.

Apa yang dapat kita pelajari dari kasus-kasus itu? Sementara Ita dan Dina terperangkap dalam suatu lembaga perkawinan, Karim yang memilih untuk belum berkeluarga malah menjadi pihak yang “bersalah”.

Ironis memang, karena dari ketiga kasus tersebut, jelas terlihat siapa yang menderita, dan siapa yang merasa nyaman dalam kehidupannya. Karim datang kepada penulis bukan karena ia menderita, namun karena ia ingin berbagi mengenai sikap masyarakat yang dianggapnya tidak masuk akal.

Di antara ketiga kasus tersebut, mengapa Karim yang menjadi sorotan masyarakat sekeliling? Karena ia berbeda dari yang lain. Kedua kasus yang lain merasa diri mereka amat menderita, namun masyarakat seolah tidak peduli pada masalah mereka. Di situlah letak inti permasalahannya. Kita masih sangat didikte oleh masyarakat mengenai apa yang terbaik bagi kehidupan kita. Padahal, setiap orang mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda.

Tekanan-tekanan dari masyarakat itu sangat berbahaya karena sangat menentukan, apakah kita dapat hidup bahagia atau tidak, dengan cara mempengaruhi pilihan-pilihan hidup kita. Namun “menyalahkan” masyarakat atau budaya, tempat kita hidup tidak ada gunanya, sama seperti menyalahkan orang lain atas nasib kita yang kurang baik. Budaya adalah budaya, yang telah terberi dan terbentuk selama berabad-abad lamanya. Menyalahkannya hanya akan membuat diri kita merasa tidak berdaya. Padahal, kita harus bangkit, dan menolong diri kita sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menolong diri kita?

Pengorbanan vs Komitmen

Cheri Carter Scott PhD dalam bukunya If Life is a Game, These are the Rules, mengatakan bahwa: “want” leads to “choice”, which leads to “commitment”; “should” leads to “decision”, which leads to “sacrifice”.

Pada dasarnya, hidup penuh dengan pilihan-pilihan. Anehnya, kita sering melakukan pilihan atas dasar keharusan (“should”). Padahal, dalam kondisi normal, kita bebas memilih pilihan-pilihan dalam hidup kita. Namun, oleh karena satu dan lain hal, kita cenderung untuk menentukan pilihan dengan mempertimbangkan “suara-suara” dari lingkungan kita. Harus menikah pada usia tertentu, harus menikah dengan orang dari suku yang sama, harus memilih istri yang pandai memasak, dan sebagainya.. harus… harus… harus….

Begitu banyaknya hal yang harus dipertimbangkan, sehingga dari keharusan-keharusan tersebut, kita harus memutuskan sesuatu. Hidup yang didasari oleh suatu keputusan yang dilandasi oleh keharusan, bisa dijamin akan membutuhkan banyak pengorbanan. Korban perasaan, korban waktu (kasus Ita), korban karier (seperti kasus Dina), korban anak-anak, banyak lagi pengorbanan yang tidak dapat dihitung dengan jari.

Mungkin Anda akan mengatakan, memang “cinta adalah pengorbanan”. Rangkaian kata-kata itu memang sering kita dengar, dan seolah-olah kita dicekoki oleh masyarakat, sehingga kita percaya akan kekuatan dan kebenaran dalam kata-kata tersebut. Namun, apakah dari dasar hati Anda yang paling dalam, Anda percaya akan kata-kata tersebut? Apakah benar bahwa cinta itu adalah pengorbanan? Apakah itu yang dinamakan cinta?

Bukankah untuk pengorbanan, tidak diperlukan cinta? Pengorbanan bisa dilakukan karena kita mempunyai suatu tujuan tertentu. Pengorbanan juga bisa dilakukan karena kita percaya atau dibuat percaya bahwa kita memang harus berkorban, tetapi untuk apa berkorban?

Lain halnya apabila kita memilih apa yang menjadi keinginan (want) kita, kebutuhan kita, berdasarkan kondisi hidup kita, kemampuan kita, keterbatasan kita, yang hanya kita sendiri yang tahu dan dapat merasakannya. Karena itu, pilihan kita tersebut, baik atau buruk, adalah pilihan kita sendiri. Itulah yang sebenarnya disebut “pilihan”.

Apabila pilihan tersebut adalah pilihan kita sendiri, kita tentu akan memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakannya. Komitmen adalah suatu hal yang kita lakukan benar-benar karena kita menginginkannya, karena kita benar-benar percaya akan apa yang kita lakukan tersebut, tanpa dipengaruhi oleh apa-apa atau siapa-siapa. Benar-benar murni karena kita menginginkannya.

Melakukan sesuatu yang di luar kehendak kita, walaupun kita konsekuen dalam melaksanakannya, bukanlah komitmen dalam arti kata yang sebenarnya. Itu adalah pengorbanan. Cukuplah untuk kita meninggalkan rangkaian kata-kata indah “Cinta adalah pengorbanan” dengan kutipan kata-kata seperti: When it hurts, it is not love (Chuck Spezzano, PhD; 1991).

Membutuhkan keberanian tersendiri untuk mengakui kutipan kata-kata itu. Pengorbanan yang dilakukan karena cinta tidak akan dirasakan sebagai pengorbanan. Sehingga, kata-kata pengorbanan itu sendiri tidak perlu muncul di kamus cinta. Pengorbanan, cepat atau lambat akan menimbulkan penderitaan. Penderitaan bukanlah yang kita cari atau kita tuju dalam suatu hubungan cinta maupun perkawinan.

Sebaliknya, cinta membiarkan pasangan-pasangannya berkembang, sebagaimana kemampuannya, sebagaimana keterbatasannya, sebagaimana jalan kehidupannya. Cinta yang sejati bahkan akan membantu pasangannya untuk berkembang, dan akan membiarkan dirinya sendiri berkembang. Sehingga keduanya merupakan suatu kekuatan yang tidak ada taranya. Sesuatu yang melebihi kehebatannya dibandingkan dengan kemampuan pasangan tersebut apabila hidup sendiri-sendiri.

Itulah yang disebut cinta sejati. Hanya cinta seperti itulah yang mampu menghindari diri kita dari “perangkap perkawinan”.

Apa yang bisa dilakukan selanjutnya?

Mempunyai pasangan hidup yang didasarkan pada cinta sejati itulah yang membiarkan pasangan berkembang. Itu adalah kondisi ideal suatu kehidupan, namun bagaimana apabila dalam kehidupan kita telah “telanjur” memilih pasangan hidup yang membiarkan kita berkorban untuk sesuatu hal yang tidak signifikan atau hanya untuk menyenangkan masyarakat sekeliling? Apa yang akan kita lakukan terhadap hal-hal yang terjadi?

Baik atas dasar komitmen atau atas dasar pengorbanan, perkawinan telah terjadi. Apakah Dina harus mengikuti mimpi-mimpi atau khayalannya untuk mengganti pasangan hidup? Apakah Ita sebaiknya bercerai untuk mendapatkan perkawinan yang didasari oleh komitmen? Ataukah sebaiknya mereka tetap terperangkap dalam kehidupan perkawinan yang sekarang ini?

Jawabannya ada dalam diri mereka sendiri. Apabila mereka percaya akan wants yang didasari oleh hati nurani, mereka pun akan membiarkan diri mereka sendiri dan pasangan mereka untuk berkembang sesuai dengan choice mereka, sehingga komitmen dalam perkawinan bukanlah dipandang sebagai suatu keterpaksaan atau pengorbanan.

Benar, baik Ita, Dina maupun mereka yang lainnya yang memiliki kasus serupa, merasa tidak nyaman dalam perkawinan mereka, dan mereka tidak “mampu” meninggalkannya. Tidak mampu dalam hal ini bisa berarti tidak tega, tidak berdaya secara finansial, tidak tahan atas tekanan-tekanan dari lingkungan.

Apa pun alasannya, bangkit dan lihatlah dunia dari kaca mata yang objektif. Tidak ada kata tidak tega, tidak ada kata tidak berdaya dan tidak ada tekanan-tekanan dari lingkungan. Semua hanya kita yang menciptakannya. Kita pula yang dapat melenyapkannya. Lenyapkan semua atribut-atribut subjektif itu, dobrak kebiasaan-kebiasaan, jadilah diri Anda sendiri. Hanya dengan cara itu Anda dapat hidup sehat, nyaman dan berkomitmen. Percaya atau tidak percaya, orang lain akan menghormati tindakan Anda itu, apabila Anda melakukannya dengan keyakinan dan cinta.

Ingatlah bahwa walaupun masa lalu Anda terkesan tidak terkendali, kabar baiknya adalah bahwa mulai saat ini Anda bisa putar haluan, dan kendalikan hidup Anda sendiri. Tidak pernah ada kata terlambat untuk itu. Let the fun begin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s